DUA KALI GAGAL MENIKAH KARENA EMOSI NEGATIF PADA AYAH

Sahabat, pernahkah mengalami kegagalan ? sekecil apapun boleh jadi pernah ya. Tapi, pernahkah mengalami kegagalan pada suatu hal secara berulang-ulang? Sebagian dari anda boleh jadi pernah. Dan…seperti yang banyak dikatakan orang bahwa kesuksessan ada polanya, demikian juga dengan kegagalan. Kisah klien saya berikut boleh jadi diantaranya.

Seorang wanita berusia 36 tahun, sebut saja Bu Ratna, beliau bekerja di sebuah BUMN di Riau beberapa waktu lalu datang ke kantor minda brilliant untuk menjalani sesi hipnoterapi. Sebelumnya saat janji terapi beliau mengatakan sangat bingung, tidak tahu apa yang dirasakan dan mau dilakukan, sulit tidur dan bahkan mau bunuh diri. 

Bu Ratna menyampaikan dia sangat depresi, dua bulan yang lalu calon suaminya memutuskan hubungan pertunangan melalui telepon dan menyampaikan tidak jadi menikahinya, alasannya karena Bu Ratna tetap  tidak mau berhenti bekerja setelah menikah,  padahal kedua pihak keluarga sudah menetapkan tanggal pernikahan keduanya, dan itu adalah 10 hari sebelum bu Ratna hadir di ruang terapi. Bu Ratna sudah membayar DP untuk penyewaan gedung dan catering. Bahkan drinya juga sudah membayar DP pembelian rumah yang rencana akan ditempati bersama usai menikah.  Tentu sangat menyakitkan, apalagi keputusan pembatalan itu hanya disampaikan melalui telepon, setelah itu semua kontak tidak bisa dihubungi. dan ini adalah kali kedua dirinya gagal menikah. 

Dua tahun sebelumnya beliau juga gagal menikah dengan pria lain, saat itu bahkan undangan sudah dicetak, kebaya pernikahan sudah selesai dijahit dan semua teman dikantornya sudah tahu dirinya akan menikah. Tunangannya membatalkan pernikahan dua minggu sebelum tanggal pernikahan yang ditetapkan dengan alasan orang tua Bu Ratna terlalu keras dan selalu dominan dalam urusan mereka berdua.

Dua kali gagal menikah dengan usia yang sudah kepala tiga tentu membuatnya sangat malu, kecewa, marah. Apalagi teman-teman dikantor yang seusia dirinya hampir semua sudah memiliki anak. Dirinya menjadi malas, tidak bergairah untuk melakukan aktivitas terutama terkait pekerjaan, sejak dua bulan lalu menjadi sulit tidur, merasa perasaannya datar saja, tidak bisa menangis, sulit untuk tertawa, tidak memiliki motivasi apapun.

Pada awalnya dirinya sangat yakin kondisi yang dialami secara psikis dan fisik ini disebabkan oleh kedua hal tersebut diatas. Namun sepanjang pengalaman praktek sebagai hipnoterapist klinis, saya memahami, seringkali simtom fisik, perilaku ataupun psikologi yang dimunculkan oleh pikiran bawah sadar pada saat ini, disebabkan oleh akumulasi emosi negatif yang intens sejak masa kecil bahkan sejak dalam kandungan hingga saat ini, kejadian akhir hanyalah pemicu saja. 

Melalui proses hipnoterapi yang berlangsung selama 2 jam 40 menit, pada kondisi hipnosis yang dalam dengan teknik regresi, pikiran bawah sadar bu Ratna memunculkan beberapa kejadian dengan emosi marah, kesal, sedih yang intens yang pernah dialami di masa remaja dan kecilnya.

Sejak usia 4 tahun Ratna kecil selalu melihat ayah dan ibunya bertengkar, ayahnya keras, pemarah dan sangat otoriter. Ratna anak kedua dari 4 bersaudara. Ayahnya sangat berharap pada Ratna untuk berhasil dalam hidupnya, itu sebabnya sejak masuk SD Ratna sering dituntut untuk belajar dan mendapat nilai yang tinggi, jika ulangan atau ujian mendapat nilai dibawah 8 ayahnya pasti akan memukulnya dengan tangan, tali pinggang bahkan kabel listrik. Hal ini terus berlangsung sampai Ratna SMA. Namun hal itu tidak berlaku pada kakak dan adiknya jika mendapat nilai rendah, ayahnya hanya marah sambil ngomel saja. Ratna kecil sebenanrnya sangat tidak suka dengan sikap ayahnya, ia merasa kesal, marah dan benci namun tidak berani mengungkapkannya. Ratna kecil sering merasa lelaki seperti ayahnya membuat ibunya dan dirinya selalu bersedih, dirinya berharap setelah dewasa nanti tidak akan menikah dengan lelaki seperti itu.

Seiring dirinya dewasa perlakuan ayahnya sudah tidak sekeras dulu, tidak lagi memukul meskipun pendapatnya tetap harus dituruti. Dirinya yang dewasa sudah terbiasa dan mulai memahami, memaafkan ayahnya. Meskipun sebenarnya perasaan marah, kesal, benci dan dendam atas perlakuan ayahnya tersimpan dan tersembunyi dalam dirinya.

Sesuai prinsip emosi, emosi negatif yang dirasakan dan tidak bisa diekspresikan atau dilepaskan akan tetap bertahan dalam diri, semakin sering mengalami emosi negatif yang sama maka semakin lama energi negatif semakin intens. Namun karena emosi terletak di pikiran bawah sadar, seringkali pikiran sadar tidak menyadarinya. Itu juga sebabnya proses terapi yang hanya mengakses pikiran sadar sulit menghilangkan simtom yang muncul, atau kalaupun hilang hanya sebentar saja. Untuk menghilangkan simtom perilaku, psikis maupun fisik yang dirasakan Bu Ratna, saat proses hipnoterapi, klien dibimbing untuk mengakses dan mengalami kembali kejadiannya, hingga sampai pada kejadian awal yang memiliki muatan emosi negatif dan belief negatif. Setelah emosi negatif dilepaskan dan menjadi netral, klien dengan ikhlas bisa memaafkan.

Setelah proses terapi, Bu Ratna merasa sangat lega, tubuhnya lebih ringan, sakit kepalanya sudah hilang. Ini tentu hal yang positif. Dan seminggu kemudian beliau menyampaikan via watshap kalau sudah bisa tidur dengan nyaman, dan keinginan untuk bunuh diri sudah hilang. Semoga semakin hari semakin baik tentunya.

Sahabat…jika merasa saat ini hidupmu belum berhasil dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga meskipun sudah berupaya sangat keras, boleh jadi ada bagian diri /ego personality yang menghalangimu. Berhentilah sejenak, lihat dalam diri, toleh ke masa lalumu, apakah ada pribadi kecil yang masih menyimpan luka, jika ada, selesaikan dan berdamailah. Jika sulit sendiri, carilah teman atau bantuan professional untuk mengatasinya. Semoga mulai saat ini dan seterusnya kita semakin sehat dan bahagia.

 

Salam,

Khairul Anwar

Hipnoterapist

081378537379

Kisah terapi ini ditulis dengan perubahan pada nama dan identitas klien lainnya.

HIPNOTERAPI MENGATASI SULIT BELAJAR BAHASA ASING

Pernahkah anda mempelajari sesuatu dan sulit untuk menguasainya, semakin berusaha mempelajarinya, malah semakin sulit melekat di pikiran. Seperti yang dialami oleh klien saya, Tika. Sudah hampir dua tahun beliau mempelajari bahasa turki, baik melalui kursus online maupun belajar mandiri, namun masih merasa belum percaya diri untuk bicara bahasa turki, karena merasa belum mahir. Ya, selama ini dirinya merasa sulit mengingat kosa kata bahasa turki yang sudah dipelajarinya. Dan yang membuatnya galau, satu bulan lagi beliau harus sudah berangkat ke Turki untuk menemui calon suaminya yang berkewarganegaraan Turki. Satu minggu lalu Tika datang ke kantor Minda Brilliant untuk menjalani sesi hipnoterapi meningkatkan kompetensinya berbicara Bahasa Turki.

Di Ruang terapi, saat mengisi intake form matanya mulai berkaca-kaca, terutama saat menuliskan intensitas emosi yang dirasakan. Dari sekala 0 sampai 10, Tika menuliskan skala 8 untuk hampir semua emosi negatif seperti marah, sakit hati, menyesal, takut, sedih, merasa tidak berharga dan merasa kecil. Dalam proses terapi, intensitas emosi yang tinggi ini tentu menjadi bahan bakar yang efektif membantu klien melepaskan dan menetralisir emosinya.

Selain ingin meningkatkan kemampuan dalam mengingat pelajaran bahasa sehingga mahir, Tika juga mengeluhkan gusinya yang selalu mengeluarkan darah hampir setiap bangun tidur. Dirinya juga merasa sangat sensitif secara emosi, mudah tersinggung dan sulit bersosialisasi dengan orang lain.

Dengan teknik hipnoanalisis, dalam kondisi hipnosis yang dalam, ditemukan beberapa hal yang menjadi penyebab klien ini sulit menguasai bahasa turki. Pertama, adanya Ego Personality  (EP) atau bagian diri klien yang bertugas menghambat klien untuk menguasai bahasa turki. Pikiran Bawah Sadar klien menyebut EP ini dengan nama Kasihan. EP Kasihan bertugas menghalangi data di memory  terkait bahasa turki supaya tidak bisa diakses oleh Pikiran sadar, sehingga sulit untuk diucapkan. EP ini muncul sejak dua tahun lalu, dimulai dari ketertarikan klien dengan bahasa turki dan klien berkenalan dengan seorang pria dari Turki melalui sosial media, perkenalan ini berlanjut semakin intens hingga keduanya saling merasa cocok dan ingin mengeratkan dalam hubungan pernikahan. Untuk merealisasikannya klien sudah siap melepaskan kewarganegaraan Indonesia dan hijrah ke Turki. Ketika hal ini disampaikan kepada adik laki-lakinya, adiknya merasa sangat sedih, karena selama ini klien yang selalu membela dan menghiburnya. Klien pun sebenarnya kasihan dan tidak tega meninggalkan adiknya. 

Tika adalah anak ke 4 dari lima bersaudara, sejak kecil dirinya sering menerima perlakuan yang keras dan tidak menyenangkan dari ibunya.  Pukulan dengan tangan atau kayu, rambut dijambak, tubuh diseret adalah hal yang sering diterima sejak dirinya belum masuk SD hingga kelas 3 SMA.  Klien merasa ibunya tidak menginginkan dirinya, dan ibunya pernah mengatakan kalau kehadiran dirinya adalah aib bagi keluarga, tika kecil tentu tidak mengerti sebabnya, meskipun sewaktu SMP ayahnya pernah mengatakan kalau dirinya bukan ayah kandungnya, tapi Tika tidak mempercayayinya dan menganggap ayah hanya bercanda. Karena memang dalam keluarga, ayahnya adalah satu-satunya orang yang membela dan menyayanginya, ketika Ibu tidak mengizinkan Tika kuliah, meskipun mendapat beasiswa, Ayahlah yang mengizinkan dan mendukungnya kuliah. Sejak Ayahnya meninggal 5 tahun lalu, sosok pembela dan pelindung Tika pun tiada. Karena kakak dan abangnyapun seperti memusuhi dirinya. Hanya adik laki-lakinya yang masih kecil selalu baik padanya dan Tika pun sangat menyayangi adiknya. Adik laki-lakinya pun sering menerima perlakuan yang keras dari ibunya. 

Setelah ayahnya meninggal, Tika merasa sangat sedih, kesepian. Apalagi sikap ibunya masih belum berubah, meskipun sejak Tika kuliah tidak ada lagi pukulan yang menyakitkan, tapi sikap dan ucapan yang keluar dari mulut ibunya masih menyakitkan. Itu juga sebabnya, selesai kuliah tika tidak kembali ke rumah ibunya, tapi mencari pekerjaan di kota lain. Jauh dari rumah dan keluarganya membuat tika merasa nyaman, dan dia merasa, bila dirinya pergi keluar negeri yang jauh, dapat melepaskan dan membebaskan diri dari rasa sakit hati. Itu sebabnya, ketika mendapat informasi tentang negara Turki, tika sangat antusias untuk kesana. Menyiapkan diri belajar bahasa Turki, hingga berkenalan secara intens dengan pemuda Turki dan bersiap menikah dengannya. Namun yang menjadi kendala, semakin dekat dengan tanggal keberangkatannya ke Turki, perasaan kasihan pada adiknya semakin besar, dan kemampuan belajar bahasa turki dirasakan semakin melambat.

Dalam proses hipnoterapi yang dilakukan pada Tika, ada tiga hal penting yang saya dan klien lakukan; pertama, menguras emosi negatif pada ibu seperti marah, kesal, sedih yang dibawanya sejak kecil, emosi ini perlu dilepaskan agar tidak mengganggu. Setelah mengalami abreaksi yang luar biasa, akhirnya PBS bersedia melepaskan dan memaafkan ibunya dengan ikhlas.  

Kedua; melakukan negosiasi terhadap Ego Personality yang menjadi penghambat belajar bahasa turki, dan Alhamdulillah EP Kasihan bersedia bekerjasama serta mau diberi tugas baru untuk mendukung kesuksessan Tika.

Ketiga; menanamkan belief dan program baru yang lebih positif dan memberdayakan di Pikiran Bawah Sadar untuk memudahkannya mencapai tujuan.

Seusai terapi yang berlangsung tiga jam, Tika menyampaikan dirnya sangat lega, tubuhnya terasa ringan. Dan tiga hari setelah terapi beliau mengirimkan pesan via watshap menyampaikan kemajuan positif yang dialaminya. Ini tentu sangat menggembirakan saya sebagai terapis. Semoga demikian selanjutnya.

Sahabat, jika kisah klien ini penting diketahui untuk menjadi pembelajaran bersama, anda boleh saja share tanpa perlu izin saya, semoga bermanfaat buat kita semua.

Certified Hypnotherapist,

Khairul Anwar

081378537379

 

Mengapa Perlu Memaafkan?

Dalam hidup ini, boleh jadi kita pernah merasa kecewa, terluka, sakit hati pada orang lain, sehingga merasakan marah atau dendam pada orang lain. bahkan sepanjang pengalaman praktek penulis sebagai hipnoterapist klinis sejak tahun 2009, seringkali bertemu dengan klien yang tetap menyimpan kemarahan, sakit hati dan dendam hingga bertahun-tahun. Bahkan kadangkala orang yang menjadi penyebab kemarahan dan dendam tersebut sudah tidak ada atau meninggal dunia, namun perasaan itu belum mau dilepaskan.

Banyak alasan yang dikemukakan mengapa seseorang sulit untuk memaafkan atau melepaskan perasaan dendam dari dalam dirinya;

  • Merasa sangat sakit hati dan belum puas
  • Merasa dirinya akan dianggap bersalah atau kalah jika memaafkan
  • Menganggap dendam sebagai motivasi untuk hidupnya
  • Takut pelaku akan mengulangi lagi, jika dimaafkan.

Saya seringkali bertanya kepada klien yang sulit memaafkan; ketika dirimu menyimpan marah, sakit hati dan dendam, apakah pelaku tahu apa yang kamu rasakan?

“Entah, mungkin nggak tahu” begitu jawaban dari banyak klien.

Terus, siapa yang merasa tidak nyaman atau menderita karena perasaan marah dan dendam itu, dirimu atau dia?

“ya diri saya”

Ya, demikianlah, saat engkau merasa tidak nyaman, sulit tidur, atau tidak bahagia karena menyimpan kemarahan atau merasa dendam, orang yang kau marah atau dendamkan tersebut mungkin sudah bahagia, tidak ingat atau tidak perduli pada dirimu.

Karena itu, menyimpan kemarahan dan dendam, seperti engkau minum racun dan berharap orang lain yang mati.

Siapa yang rugi? pasti diri sendiri khan..

Namun, sebagian orang lain merasa sudah memaafkan karena sudah tidak perduli lagi atau masa bodoh dengan pelaku atau apa yang dilakukan. Bahkan banyak yang mengatakan sudah melupakan.

Apakah memaafkan berarti melupakan?

Pada realitanya, banyak orang yang merasa sudah tidak perduli atau melupakan kejadian/pelaku belum benar-benar memaafkan. Pikiran sadar boleh jadi sudah memaafkan, namun pikiran bawah sadar belum tentu demikian. Dalam interaksi dengan banyak klien, diawal sesi konseling seringkali mengatakan sudah memaafkan orang yang pernah menyakiti atau membuat terluka. Apalagi jika pelaku itu adalah saudara atau orang tua dan kejadiannya sudah lama berlalu, saat kecil misalnya. Namun saat dalam kondisi hipnosis yang dalam, ketika mengakses kejadian dimasa lalu atau mengakses pelaku, perasaan marah masih sangat intens, reaksi fisik menunjukan kemarahan;nafas menjadi cepat, rahang mengeras dan rona wajah berubah bahkan tangan mengepal dan beberapa respon lainnya.

Ini menunjukkan, bahwa yang sebelumnya dikatakan sudah memaafkan, ternyata belum sepenuhnya demikian di pikiran bawah sadar. Pikiran sadar dan bagian diri dewasa yang bijaksana, boleh jadi memaafkan. namun bagian diri yang kecil (inner child) dan masih terluka, seringkali belum puas dan belum mau memaafkan.

Kenapa perlu dipuaskan?

Demikianlah prinsip inner child, belum memaafkan jika merasa belum membalas dengan setimpal. Bukankah banyak orang sering mengatakan ” Ya..sudahlah kumaafkan, biar saja Tuhan membalasnya..” Bukankah itu juga berarti mengharap untuk “membalas”?

Hakekat Memaafkan

Memaafkan Bukan berarti harus melupakan

Memaafkan tidak harus menyukai pelakunya

Memaafkan bukan berarti menginginkan kejadian yang dulu terulang kembali

Memaafkan Bukan untuk orang lain atau pelaku

Memaafkan bukan untuk mengubah perilaku orang lain

Memaafkan adalah untuk diri sendiri

Memaafkan berarti melepaskan perasaan marah, sakit hati dan dendam yang tersimpan dalam diri.

Bagaimana Memaafkan dengan Tuntas?

Karena Memaafkan adalah melepaskan, maka ada beberapa syarat untuk melepaskan:

  1. Menyadari dan Mengakui; Kita perlu mengakui apa yang kita rasakan, mengakui jika memang pernah terluka, mengakui jika memang pernah sakit hati, mengakui jika memang pernah menyimpan dendam.
  2. Mengungkapkan apa yang dirasakan; jika kejadiannya dimasa lalu dan pelaku masih bisa ditemui, sampaikanlah secara langsung bahwa dirimu pernah merasa terluka karena apa yang telah dilakukannya dimasa lalu. Bagaimana jika pelakunya sudah jauh atau sudah tiada? bisa diungkapkan lewat tulisan, tulis dikertas seperti halnya dirimu menulis surat padanya, katakan apa yang dirimu rasakan.
  3. Balas dengan setimpal dipikiranmu. kenapa hanya dipikiran, bukan langsung pada pelaku? Karena yang bermasalah bukan pelaku, tapi dirimu yang menyimpan perasaan dendam dan sakit hati tersebut. Bayangkan orangnya, bayangkan dirimu membalas perlakuannya dengan setimpal, apakah dengan cara memaki, memukul atau memarahinya, lakukan sampai merasa puas. Jika dilakukan dengan benar-benar fokus atau total, akan sama puas rasanya dengan realita. Bukankah dirimu bisa ikut nangis saat melihat cerita yang sedih di televisi, meskipun secara sadar sudah tahu itu hanya akting? demikianlah pikiran bawah sadar, tidak ada bedanya imajinasi dengan realita.
  4. Maafkanlah; bayangkan pelaku. katakan padanya; “Demi kebaikan hidupku, demi kesehatanku dan demi kebahagiaanku, aku ikhlas memaafkanmu, aku lepaskan semua perasaan marah, sakit hati dan dendam yang pernah tersimpan dalam hati dan pikiranku, karena perlakuanmu atau apapun yang berhubungan denganmu.”
  5. Doakan, berikan doa terbaikmu buat orang tersebut, semoga perilakunya, sikapnya, kata-katanya dan hidupnya menjadi lebih baik.

Sekarang, apakah sudah siap untuk memaafkan?

Hipnoterapi Klinis Untuk Mengatasi Gangguan Bipolar

Pagi ini, sangat senang sekali menerima kabar dari salah satu klien yang pernah menjalani sesi hipnoterapi di Klinik Hipnoterapi Pekanbaru lebih satu tahun yang lalu. klien ini sebut saja Susi, baru mengabarkan bahwa dirinya sudah diwisuda dari program S1 di Universitasnya beberapa hari yang lalu. Susi juga memberitahu jika kondisi emosinya setahun ini sangat stabil dan baik selalu.

 

Empat belas bulan yang lalu, Susi datang bersama orangtuanya ke Klinik Hipnoterapi Pekanbaru Minda Brilian Sukses untuk menjalani sesi hipnoterapi, Orangtuanya menyampaikan bahwa Susi sering berhalusinasi, berbicara sendiri, emosinya tidak terkendali, saat marah sering membenturkan atau memukul kepalanya sendiri, beberapa kali juga menyayat tangannya. Susi juga bisa tiba-tiba menangis, mengurung diri dan sering sulit tidur. Menurut ibunya, Susi anak yang juga periang dan pintar, sejak SD sampai SMP mendapatkan Rangking 1 terus, Sejak masuk SMA prestasinya mulai menurun namun tetap di rangking tiga besar, Sejak awal kuliah sampai tahun ketiga Indeks Prestasinya naik turun, dan puncaknya beberapa minggu ini Susi malas kekampus.

Sebelumnya Susi sudah ditangani oleh professional lainnya lebih dari 6 bulan dan diberikan diagnosa gangguan Bipolar. serta diberikan obat yang harus dikonsumsi setiap hari. Orang tua Susi membawa ke Hipnoterapis atas permintaan Susi sendiri karena tidak ingin terus bergantung dengan obat.

 

Apa itu Gangguan Bipolar?

—-

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan American Psychiatrist Association, gangguan bipolar ditandai dengan periode depresi yang berkepanjangan, mendalam, dan intens yang silih berganti dengan periode suasana hati yang sangat gembira dan mudah kesal secara berlebihan atau mania.

 

Gangguan Bipolar sering disebut juga dengan gangguan mental yang membuat pengidapnya memiliki suasana hati/perasaan yang labil. Ciri-ciri orang dengan Gangguan Bipolar pada umumnya adalah mood swing atau perubahan emosi yang cepat. Dalam satu kondisi dan situasi bisa tampak sedih dan juga tiba-tiba bahagia.

Orang Dengan Gangguan Bipolar sering mengalami episode manik dan depresi. Episode manik yakni kondisi dengan gejala energy yang tinggi, semangat, sulit tidur, berkhayal. Sementara episode depresi menunjukkan kondisi energy rendah, kurang semangat, kehilangan minat dalam melaksanakan aktivitas. 

—–

Diawal sesi, Susi bertanya apakah penyakit BIPOLAR yang dialami bisa disembuhkan? karena dari banyak artikel yang dibaca menyebutkan Bipolar sulit disembuhkan dan dapat berlangsung seumur hidup. Saat itu saya menyampaikan; “Sebagai Hipnoterapis Klinis, saya tidak memberikan diagnosa penyakit apapun, karena bukan wilayah saya untuk mendiagnosa, dan saya tidak bekerja berdasarkan diagnosa yang diberikan professional sebelumnya. Bagi saya sebagai Hipnoterapis, setiap simtom apapun yang dialami baik secara emosi, prilaku dan fisik adalah sebagai cara komunikasi dari Pikiran Bawah Sadar, yang dimunculkan karena sebab tertentu, maka tugas saya dan klien adalah mencari penyebab dan akar masalahnya, bereskan emosi dan belief yang menghambat”.

 

Dihadapan orang tuanya, saya menjelaskan tentang hipnoterapi, cara kerja pikiran sadar dan bawah sadar serta bagaimana pembentukan perilaku dan penyakit pada seseorang. Saya menjelaskan tentang ego personality atau bagian diri, bagaimana terbentuknya bagian diri “sedih” atau bahagia”” serta bagian diri yang lain pada seseorang. Saya juga meminta komitmen dari orang tua susi untuk bekerjasama dalam proses terapi, jika ditemukan bahwa yang menjadi penyebab masalah pada susi adalah pola komunikasi dan pola asuh dari orangtua, maka mereka juga perlu bersedia untuk memperbaiki.

Dalam proses hipnoterapi dengan teknik tertentu yang telah teruji secara klinis untuk menemukan akar masalah dan menetralisir emosi negatif, ditemukan banyak pengalaman dengan muatan emosi negatif yang intens. Sejak masih TK Susi selalu dituntut untuk memiliki prestasi dan nilai tinggi oleh ibunya, ibunya selalu mengikutkan lomba seperti mewarnai, fashion show yang terkadang tidak disukai Susi. Ibunya pernah memarahinya didepan teman TK saat ikut lomba fashion show dan Susi terjatuh dipanggung karena gaun yang dipakai terpijak temannya. Susi merasa bukan kesalahannya tapi tidak berani untuk membantahdan hanya bisa menangis. Sejak SD susi dituntut untuk menjadi juara, harus belajar dan tidak diberikan keleluasaan untuk bermain dengan temannya. Ibunya akan memarahi, mencubit jika nilai ulangannya dibawah 95, bahkan pernah mengurung dikamar mandi sewaktu Susi tidak mau belajar. Meskipun kesal dan marah pada ibunya, namun Susi kecil tidak berani melawan atau membantah. Susi memang menjadi Juara 1 dikelasnya sampai SMP, dan setiap juara ibunya sering memberikan hadiah pada dirinya.

Sebagai anak tunggal, Susi tidak memiliki teman untuk bercerita atau bermain, Susi juga merasa kesal pada ayahnya, meskipun ayahnya tidak pernah memarahinya, tapi ayahnya hanya diam dan tidak membantu saat Susi dimarahi oleh ibunya. Semua emosi marah, sedih, kesal hanya bisa ditahan dan disimpan, dan semakin Susi tumbuh besar, akumulasi intensitas emosi juga semakin meningkat. Itu sebabnya kemudian muncul bagian diri yang merasa lelah, merasa tidak berdaya dan dimunculkan dengan menyakiti diri sendiri, menjadi malas tidak semangat.

Melalui proses hipnoterapi yang berlangsung lebih dari tiga jam, tekanan emosi negatif yang tersimpan dilepaskan dan dinetralisir, ego personality atau bagian diri yang selama ini membuat tidak nyaman, dinegosiasi untuk bekerjasama dengan tugas baru yang lebih memberdayakan.

Satu minggu setelah selesai terapi, Orang tua susi mengabari kalau Susi sudah sudah kembali kuliah dengan semangat, bisa tidur lebih nyenyak dan tidak terlihat marah-marah, bahkan sudah mulai mau cerita pada ayahnya. Setelah itu tidak ada komunikasi lagi hingga setahun lebih, dan baru mengabari hari ini bahwa Susi sudah selesai diwisuda.

Alhamdulillah, semoga semakin hari semakin baik adanya.

Copyright © 2026 HIPNOTERAPI PEKANBARU